Jepang Mulai Diskusi ‘Travel Bubble’ di Tengah Pandemik, RI Tak Diajak

Jepang Mulai Diskusi 'Travel Bubble' di Tengah Pandemik, RI Tak Diajak

Jepang Mulai Diskusi ‘Travel Bubble’ di Tengah Pandemik, RI Tak Diajak

Jepang Mulai Diskusi ‘Travel Bubble’ di Tengah Pandemik, RI Tak Diajak – Pemerintah Jepang mulai melanjutkan pembicaraan untuk membuka lagi penerbangan bagi para pengusaha dengan 10 negara Asia lainnya. Sepuluh negara yang kini tengah dijajaki untuk dibuka penerbangan langsung dan ditujukan bagi pengusaha yaitu Malaysia, Singapura, Brunei, Myanmar, Kamboja, Laos dan Mongolia.

Sebelumnya, jepang sudah membuka penerbangan ke empat negara yaitu Vietnam, Australia, Thailand dan Selandia Baru. Dalam daftar itu tidak ada Indonesia. Padahal, Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam pertemuan KTT ASEAN yang digelar virtual untuk kali pertama juga menyatakan Indonesia bersedia untuk ikut dalam travel bubble tersebut.

Vietnam sudah lebih dulu membuka pintunya bagi 440 pengusaha dari Jepang pada akhir Juni lalu. Salah satu Jepang bersedia membuka penerbangan ke Vietnam, karena negara itu sudah dinilai berhasil mengendalikan pandemik COVID-19.

Lalu, apakah dengan membuka penerbangan bagi warga negara lain, Jepang sudah siap dengan protokol kesehatan yang berlaku?

1. Bandara di Jepang memiliki kemampuan tes 2.300 penumpang per harinya 

Berdasarkan laporan NST, bandara-bandara di Jepang mampu melakukan tes terhadap 2.300 penumpang setiap harinya. Sedangkan, untuk tes antibodi dan pusat diagnosa akan terus ditambah hingga 4.000 orang per harinya mulai bulan Agustus.

Bahkan, Jepang sukses mengembangkan metode pengujian tes PCR yang bisa memberikan hasil akurat hanya dalam kurun waktu 30 menit. Laman Asia Nikkei melaporkan tes PCR itu bisa dilakukan tanpa bantuan peralatan dan staf khusus.

Peralatan tes khusus untuk Sars-CoV-2 itu dikembangkan oleh pengajar dari Universitas Nihon, Masayasu Kuwahara. Kini, ia dan timnya tengah menunggu persetujuan dari Kementerian Kesehatan Jepang.

2. Jepang tengah mempertimbangkan untuk melonggarkan batasan perjalanan bagi para atlet Olimpiade 

Sementara, laman Kyodo News melaporkan Jepang tengah mempertimbangkan untuk menghilangkan batasan perjalanan bagi para atlet dari negara lain yang ikut Olimpiade dan Paralympic Tokyo. Walaupun tahun depan belum dijamin pandemik COVID-19 bisa dikendalikan.

Dalam Olimpiade, Jepang diperkirakan akan menampilkan sekitar 11 ribu atlet dari 200 negara dan kawasan. Komite Olimpiade hingga kini belum menunjukkan indikasi untuk menurunkan jumlah pertandingan yang dilakukan tahun depan.

Menurut sumber, salah satu cara antisipasi untuk mencegah penularan COVID-19 yaitu atlet dan pendamping akan diwajibkan untuk mengikuti tes PCR selama beberapa kali sebelum masuk ke Jepang dan usai tiba di Negeri Matahari Terbit itu.

Selain itu, panitia juga mewajibkan para atlet yang tinggal di pemukiman khusus membatasi diri untuk melakukan kontak langsung dengan orang lain. Itu juga dijadikan salah satu persyaratan sebelum masuk ke Jepang.

3. WNI tidak akan diterima di negara manapun bila angka kasus COVID-19 masih tinggi 

Sementara, dalam sudut pandang anggota Ombudsman, Alvin Lie, sikap Jepang yang tidak mengajak Indonesia untuk berdiskusi mengenai kebijakan travel bubble sudah bisa diprediksi. Menurut Alvin, kendati Jepang memiliki investasi tinggi di Indonesia, tetapi pemerintahnya lebih peduli terhadap keselamatan warganya agar terhindar dari COVID-19.

“Siapa yang mau ke Indonesia dalam kondisi seperti ini? Cara kita handling COVID-19 masih buruk begini, jelas tidak akan ada yang percaya datang ke Indonesia.

Menurut Alvin, agar situasi ini tidak semakin buruk, maka pemerintah harus lebih serius dalam menangani pandemik COVID-19. Caranya, dengan menurunkan angka penularan.

Ia menjelaskan, itu lah metode yang digunakan oleh negara lain. Cara tersebut tidak membutuhkan tes.

“Atau bila warga masuk ke daerah merah, maka wajib langsung karantina 14 hari. 14 hari betul-betul strict, satu orang diberi satu kamar, tidak boleh ketemu siapa-siapa,” tutur dia.

Dengan begitu, angka penularan COVID-19 di Tanah Air diprediksi bisa turun drastis.