Budaya sebelum pergi berperang suku nias di indonesia

Mengenal 5 Tradisi Berbagai Kerajaan yang Masih Eksis di Indonesia

Lompat batu Bawomataluo

Budaya sebelum pergi berperang suku nias di indonesia – Ketika mendengar tentang Pulau Nias, sebagian orang akan tergambar di benaknya lompat batu, satu atraksi budaya yang telah terkenal hingga ke dunia internasional. Desa Bawomataluo, merupakan salah satu desa yang terdapat tradisi lompat batu, dalam bahasa daerah disebut “Hombo Batu” atau “Fahombo”.

Budaya Suku Nias

Bawomataluo yang berarti bukit matahari, di mana para warga dan wisatawan dapat melihat keindahan matahari terbit dan tenggelam. Di “Bukit Matahari” itu masyarakat akan disuguhkan berbagai ragam atraksi adat dan budaya.
Hombo Batu merupakan tradisi yang muncul dari kebiasaan berperang antar-desa, masing-masing desa membentengi wilayahnya dengan batu atau bambu setinggi dua meter. Karena itu, tradisi lompat batu lahir dan dilakukan sebagai sebuah persiapan sebelum berperang.

Tradisi sebelum berperang

Tradisi Hombo Batu diwariskan secara turun-temurun di setiap keluarga dari ayah kepada anak laki-lakinya. Namun, tidak semua pemuda Nias dapat melakukannya meskipun sudah berlatih. Tahun 1990-an, gambar atraksi lompat batu menghiasi uang seribu rupiah, dan atraksi tersebut telah lama menjadi daya tarik pariwisata di Pulau Nias, khususnya di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

Wisatawan akan tercengang melihat pemuda mengenakan pakaian adat dengan gagah melompati batu setinggi 2 meter dan tepuk tangan sebagai ‘hadiah’ bentuk ketakjuban akan atraksi tersebut.

Kepedulian dan regenerasi menjadi kata kunci agar lompat batu tetap terjaga, sehingga budaya Indonesia semakin dikenal di dunia internasional.

Lompat Batu atau Hombo Batu awal mulanya merupakan sebuah ritual inisiasi pria muda menjadi pria dewasa dan menjadi seorang prajurit. Sebagai seorang prajurit pria tersebut harus mampu melewati batu yang tinggi, sehingga jika berhasil maka dapat diziinkan untuk ikut berperang. Konon katanya syarat tersebut tercipta karena pada zaman dahulu desa-desa di Nias dikelilingi pagar batu yang cukup tinggi, maka dari itu Lompat Batu sebagai syarat agar saat berperang para prajurit dapat melompati benteng tembok pertahanan saat menyerang musuh.

Tradisi Lompat Batu di Nias masih masih terus dilestarikan hingga saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu tradisi tersebut sudah bukan menjadi tradisi sebagai syarat untuk mengikuti peperangan, melainkan menjadi salah satu simbol sebagai budaya masyarakat Nias.

Makna budaya lompat batu

Tradisi Lompat Batu ini muncul karena kebiasaan masyarakat saat perang suku yang pernah terjadi di Nias. Konon pada saat itu, setiap kampung yang berperang mempunyai bentengnya masing-masing untuk menjaga wilayah mereka. Sehingga untuk menyerang, dibutuhkan kekuatan khusus untuk melompati benteng tersebut. Mereka kemudian membuat tumpukan batu yang digunakan untuk melatih fisik mereka, terutama ketangkasan dalam melompat.

Seiring dengan berakhirnya perang tersebut, lompat batu ini masih dilakukan oleh masyarakat di sana hingga menjadi suatu tradisi. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi ritual atau media bagi para pemuda untuk menunjukan bahwa dia sudah dewasa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *